Batu pertama diletakkan, pidato dilantangkan, kamera merekam, dan publik diminta percaya bahwa sebuah era baru pendidikan tinggi sedang dimulai.
Janji yang disampaikan bukan janji kecil. Kampus ini disebut-sebut sebagai investasi besar bagi masa depan generasi muda. Pemerintah daerah mengucurkan dana hibah miliaran rupiah yang bersumber dari uang rakyat.
Masyarakat pun diberi harapan bahwa dana tersebut akan segera menjelma menjadi gedung perkuliahan yang layak dan membanggakan.
Kini tahun 2026. Tiga tahun telah berlalu, tetapi yang berdiri bukan pusat pendidikan unggulan, melainkan monumen janji yang tertunda. Bangunan kampus tak kunjung selesai, sementara manfaat yang dijanjikan belum benar-benar dirasakan oleh mahasiswa.
Di balik slogan-slogan besar tentang kemajuan pendidikan, mahasiswa justru menjadi pihak yang paling menanggung beban. Mereka masih harus menumpang, berpindah-pindah, dan berdesakan mencari ruang belajar.
Ini bukan gambaran kampus unggulan. Ini adalah potret kegagalan menghadirkan fasilitas dasar bagi mereka yang membayar untuk menuntut ilmu.
Lebih ironis lagi, semua ini terjadi setelah publik disuguhi seremoni besar dan narasi penuh pujian. Ketika janji dipasarkan sedemikian mewah tetapi realitasnya begitu memprihatinkan, maka yang sedang dipertontonkan adalah jurang lebar antara kata-kata dan tanggung jawab.
Uang hibah yang digunakan bukan milik pribadi siapa pun. Itu adalah uang rakyat yang harus dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Setiap rupiah yang telah dikucurkan wajib dijelaskan penggunaannya, karena masyarakat berhak mengetahui ke mana arah dana yang digadang-gadang akan melahirkan pusat pendidikan unggulan tersebut.
Mahasiswa bukan alat promosi dan bukan figuran dalam seremoni pembangunan. Mereka adalah subjek utama pendidikan. Jika hingga hari ini mereka masih berebut ruang kelas, maka ada sesuatu yang keliru dalam prioritas dan pengelolaan proyek ini.
Kepercayaan publik tidak dibangun dengan baliho, sambutan, dan foto peletakan batu pertama. Kepercayaan dibangun melalui hasil nyata.
Selama bangunan kampus belum selesai dan mahasiswa masih dipaksa belajar dalam kondisi terbatas, maka klaim tentang pendidikan unggulan terdengar seperti slogan tanpa isi.
Kolaka Utara tidak kekurangan pidato. Yang kurang adalah keberanian untuk menuntaskan janji dan memberikan penjelasan yang jujur kepada masyarakat.
Diam bukan jawaban, dan keterlambatan tanpa transparansi hanya akan memperbesar kecurigaan publik.
Jika hingga 2026 mahasiswa masih berdesakan di ruang pinjaman sementara gedung kampus tetap terbengkalai, maka pertanyaannya sederhana: apakah pendidikan sungguh diperjuangkan, atau hanya dijadikan panggung pencitraan yang megah di depan kamera?
Kolutgelap.my.id | Mengungkap Fakta, Menyalakan Kebenaran
