OPINI: Bukan Sekadar Penonton di Rumah Sendiri

Author: Mirsan Said Marola
(Ketua Umum IPPMAKU (Ikatan Pelajar Pelajar Mahasiswa Kolaka Utara) Sultra, menulis opini dengan judul Bukan Sekadar Penonton di Rumah Sendiri

Opini, Kolutgelap.my.id — Kolaka Utara selama ini dikenal sebagai daerah yang kaya. Hamparan kebun kakao dan cengkeh membentang luas. Kandungan nikel di perut bumi terus dikeruk. Investasi datang silih berganti. Angka-angka pertumbuhan ekonomi dipamerkan dalam berbagai forum resmi.

‎Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang dijawab secara jujur: apakah kekayaan alam tersebut benar-benar sebanding dengan kualitas sumber daya manusianya?

‎Inilah titik persoalan yang sesungguhnya.

‎Daerah ini tidak kekurangan hasil bumi. Yang kerap kekurangan justru keberanian untuk menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Padahal, aset paling berharga yang dimiliki Kolaka Utara bukan terletak di tambang, bukan pula di luasnya perkebunan. Aset terbesar itu adalah generasi mudanya, terutama para mahasiswa yang sedang menimba ilmu di Kendari, Makassar, hingga berbagai kota di Pulau Jawa.

‎Mereka adalah investasi intelektual yang nilainya jauh lebih mahal daripada satu ton nikel.

‎Sayangnya, potensi itu sering kali berhenti di ruang-ruang kuliah. Mahasiswa sibuk mengejar indeks prestasi, tetapi belum tentu siap menjawab persoalan nyata di kampung halaman. Gelar akademik dikejar dengan penuh semangat, tetapi gagasan untuk membenahi daerah sendiri masih terlalu sering tertunda.

‎Padahal, Kolaka Utara tidak hanya membutuhkan jalan mulus, gedung megah, atau proyek-proyek bernilai miliaran rupiah. Daerah ini membutuhkan gagasan segar, inovasi, dan keberanian untuk memutus rantai kebiasaan lama yang membuat masyarakat hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.

‎Mahasiswa tidak boleh terus hidup dalam menara gading.

‎Ilmu pengetahuan harus turun ke kebun, ke desa, ke pasar, dan ke ruang-ruang musyawarah masyarakat. Mahasiswa pertanian seharusnya mampu membawa teknologi fermentasi kakao yang meningkatkan kualitas dan harga jual hasil petani. Mahasiswa ekonomi dan hukum dapat membantu masyarakat memahami pentingnya transparansi pengelolaan dana desa. Mahasiswa teknik bisa menawarkan solusi atas persoalan infrastruktur dan lingkungan.

‎Itulah pembangunan yang sesungguhnya: pembangunan yang menggerakkan kesadaran, bukan sekadar menghabiskan anggaran.

‎Namun, tanggung jawab tidak bisa dibebankan kepada mahasiswa semata.

‎Pemerintah daerah juga harus berhenti melihat mahasiswa hanya sebagai objek seremoni atau peserta undangan pada acara formal. Anak-anak muda ini membutuhkan ruang kolaborasi yang nyata. Mereka memerlukan dukungan terhadap riset, inovasi, dan program pengabdian yang benar-benar menjawab persoalan Kolaka Utara.

‎Beasiswa penting, tetapi tidak cukup.

‎Yang lebih penting adalah keberpihakan politik pembangunan yang memberi tempat bagi gagasan-gagasan kritis, bahkan ketika gagasan itu terasa tidak nyaman bagi penguasa.

‎Karena pembangunan tidak semata diukur dari seberapa banyak nikel dikeluarkan dari perut bumi, tetapi dari seberapa banyak ide yang lahir untuk memperbaiki masa depan.

‎Dan mesin penggerak ide itu adalah mahasiswa.

‎Jika mesin ini dirawat, diberi ruang, dan didukung dengan kesempatan yang adil, maka Kolaka Utara tidak akan terus menjadi penonton di rumah sendiri. Daerah ini dapat tampil sebagai pemain utama yang menentukan arah pembangunan di Sulawesi Tenggara.

‎Akhirnya, ada satu hal yang harus disepakati bersama.

‎Gelar sarjana tidak boleh berhenti sebagai pajangan di dinding rumah. Ia harus menjadi alat perjuangan untuk memperbaiki nasib daerah yang selama ini dikenal sebagai Bumi Kakao.

‎Karena jika bukan kita yang membangun Kolaka Utara, lalu siapa lagi?

‎Dan jika bukan sekarang, sampai kapan kita rela menjadi penonton di tanah yang begitu kaya ini?

(*)

Lebih baru Lebih lama