Diterpa Isu “Uang Koordinasi” Rp21 Juta, Jurnalis Suaraterkininews.com Buka Suara dan Tantang Tunjukkan Bukti Transfer
Kolaka Utara, Kolutgelap.my.id — Polemik pembangunan Puskesmas Porehu kembali menjadi sorotan publik. Setelah bertahun-tahun menuai kritik karena diduga dikerjakan asal-asalan dan tak kunjung berfungsi optimal, kini muncul isu baru yang menyeret nama seorang jurnalis media online Suaraterkininews.com
Nama yang disebut-sebut dalam rumor tersebut adalah Akbar Pelayati, wartawan yang selama ini konsisten memberitakan dugaan persoalan pada proyek pembangunan Puskesmas Porehu di Kecamatan Porehu.
Sebagaimana diketahui, sejumlah pemberitaan yang terbit pada tahun 2024 dari Suaraterkininews.com mengangkat dugaan buruknya kualitas pekerjaan proyek tersebut.
Di antaranya berjudul “Pembangunan Puskesmas Porehu Bobrok! Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kolaka Utara Menantang DPRD untuk Menjadwalkan RDP” dan “Infrastruktur Puskesmas Porehu Kolaka Utara Diduga Dikerjakan Asal-asalan, APH Diminta Lakukan Audit Ulang.”
Pemberitaan tersebut sempat memantik reaksi luas dari masyarakat dan kalangan mahasiswa. Bahkan, sejumlah organisasi turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi, menuntut transparansi dan pertanggungjawaban atas proyek yang dibiayai dari uang rakyat itu.
Namun, di tengah derasnya kritik terhadap proyek tersebut, muncul kabar tak sedap. Di sejumlah warung kopi, beredar isu bahwa seorang jurnalis yang intens memberitakan persoalan itu telah menerima “uang koordinasi” senilai Rp21 juta dari pihak tertentu.
“Menurut pembicaraan orang-orang di warkop, disebut nama Akbar Pelayati. Katanya Akbar sudah dicairkan oleh Dinas,” ungkap seorang sumber berinisial T kepada wartawan, Kamis (14/5/2026).
Menanggapi rumor tersebut, Akbar Pelayati memberikan klarifikasi tegas. Ia membantah keras tudingan bahwa dirinya menerima uang koordinasi dari pihak mana pun, termasuk dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka Utara.
“Saya tidak pernah membuka komunikasi dengan siapa pun terkait uang koordinasi, apalagi menerima uang dari Dinas Kesehatan,” tegas Akbar saat ditemui awak media, Kamis (14/5/2026).
Akbar menegaskan bahwa selama ini ia menjalankan tugas jurnalistik berdasarkan fakta dan data. Menurutnya, jika ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan pribadi dengan mengatasnamakan media, maka hal tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan Suaraterkininews.com.
“Kalau saat itu ada oknum yang memanfaatkan momentum pemberitaan tersebut, itu bukan bagian dari Suaraterkininews.com,” ujarnya.
Tak hanya membantah, Akbar juga melempar tantangan terbuka kepada siapa pun yang menuduh dirinya menerima uang koordinasi. Ia meminta agar tuduhan tersebut dibuktikan secara konkret, bukan sekadar menjadi bahan gosip murahan di warung kopi.
“Saya tantang siapa saja yang merasa curiga kepada saya untuk membuktikan jika memang saya menerima uang koordinasi dari Dinas Kesehatan. Tunjukkan bukti transfernya,” katanya dengan nada tegas.
Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa integritas seorang jurnalis tidak boleh dihancurkan oleh desas-desus tanpa dasar. Di tengah upaya membongkar dugaan persoalan proyek publik, serangan melalui isu-isu liar kerap menjadi cara klasik untuk melemahkan kritik.
Publik tentu berhak mengetahui kebenaran. Jika tudingan itu benar, buktikan. Jika tidak, hentikan pembunuhan karakter terhadap orang yang selama ini justru berani menyoroti penggunaan uang rakyat.
Sebab dalam dunia jurnalistik, kritik dapat dibantah dengan data, tetapi fitnah hanya menunjukkan satu hal: ada pihak yang mulai gelisah ketika fakta terus dibuka ke permukaan.
(*)
