Kolutgelap.my.id, Opini — Dunia pendidikan tinggi teknik pertambangan hari ini dinilai tengah mengalami disorientasi fungsi yang serius.
Kampus yang secara historis hadir sebagai ruang dialektika, analisis ketidakadilan, serta pembela realitas sosial masyarakat, kini perlahan bertransformasi menjadi sekadar lembaga pencetak tenaga kerja demi memenuhi kepentingan korporasi dan penguasa.
Fenomena ini melahirkan paradoks di kalangan mahasiswa teknik pertambangan di berbagai daerah.
Mayoritas mahasiswa dinilai terjebak dalam ambisi pragmatis dengan menghabiskan energi akademiknya untuk memoles keterampilan teknis lapangan demi mengejar karier korporasi yang menjanjikan.
Sementara itu, ruang diskusi mengenai dampak ekologis, degradasi lingkungan, hingga konflik agraria yang dialami masyarakat lingkar tambang justru semakin sepi dan terpinggirkan.
“Kami dididik menjadi teknokrat yang andal mengeruk bumi, tetapi dibuat buta terhadap tangisan masyarakat yang ruang hidupnya terancam.
Ini bukan sekadar apatisme individu, melainkan kegagalan sistemik dalam kurikulum pendidikan,” ujar seorang mahasiswa Teknik Pertambangan semester enam dalam pernyataan tertulisnya hari ini.
Kritik tersebut mengarah pada sistem kurikulum dan atmosfer akademik yang dinilai semakin menjinakkan daya kritis mahasiswa.
Pendidikan tinggi tidak lagi mendorong mahasiswa untuk mempertanyakan keadilan distribusi kekayaan alam maupun etika lingkungan.
Sebaliknya, institusi pendidikan justru dipandang berfungsi layaknya lini produksi (assembly line) yang memasok tenaga kerja patuh bagi industri ekstraktif berskala besar.
Komodifikasi pendidikan ini perlahan mengikis peran mahasiswa sebagai agent of change. Ketika ruang kelas hanya dipenuhi pembahasan mengenai produktivitas dan profitabilitas tanpa menyentuh aspek keadilan sosial serta kemanusiaan, maka lulusan yang dihasilkan berisiko menjadi sekadar bagian kecil dari mesin perusak lingkungan.
Rilisan ini menjadi seruan bagi seluruh mahasiswa teknik pertambangan agar segera bangkit dari “tidur akademis”. Mahasiswa tambang tidak seharusnya hanya melihat hasil bumi sebagai angka ekonomi semata, tetapi juga memahami manusia, ruang hidup, dan masa depan ekologi yang dipertaruhkan di balik setiap aktivitas pertambangan.
Kampus harus direbut kembali sebagai ruang perlawanan pemikiran, ruang keberpihakan terhadap rakyat, dan ruang lahirnya kesadaran ekologis — bukan semata ruang kepatuhan terhadap kepentingan industri.
Author: Adrian Alfaridzi
Mahasiswa Teknik Pertambangan Semester VI
